MENYIKAPI KELUHAN PASIEN
Posted on September 29th, 2009 in Inside Doctor's Room Bahasa_Indonesia, Info_consent
Permintaan Pasien : Keharusan atau Pilihan?
Seorang ibu datang kepada saya membawa anak perempuannya berusia 14 tahun dengan keluhan BAB (buang air besar) tidak lancar sejak 3 bulan yang lalu dengan frekuensi rata-rata sekali dalam seminggu (irregular bowel movement).
Dalam pemikiran saya, masa 3 bulan sudah cukup membuat perutnya amat sangat bermasalah. Dari anamnese tidak didapatkan adanya keluhan pencernaan yang berarti. Tidak ada perubahan pola makan, tidak ada keluhan nyeri, atau bahkan bisa dibilang tidak ada keluhan pencernaan sama sekali. Satu-satunya keluhan hanyalah BAB tidak lancar, yang secara teori pun belum mengarah kepada keadaan konstipasi (Constipation). Frekuensi BAB 3-21 x per minggu masih dianggap normal. Walaupun frekuensi BAB 1x per hari dianggap yang paling normal, tapi ternyata hanya 50% orang yang mengalaminya. Frekuensi ini dipengaruhi oleh usia, aktivitas, jenis dan pola makanan/minuman. Jadi, konstipasi tidak bisa ditegakkan hanya dengan menilai frekuensi BAB, tapi juga ditunjang dari gejala klinis (misalnya nyeri perut, perut terasa penuh, feses keras, dan sebagainya).
Selanjutnya, dari pemeriksaan fisik tidak didapatkan hasil apapun dan juga tidak menampakkan gejala apapun (tidak ada nyeri, kembung, dan sebagainya). Pregnancy Test negatif, bukti memang si anak sedang tidak hamil. Hal ini semata-mata dilakukan agar diagnosa tidak kabur. Saya memberikan resep dulcolax suppositoria. Selanjutnya ia harus makan bubur, kurangi daging, dan diet tinggi serat. Ternyata si ibu protes. Ia ingin pemeriksaan rontgen untuk perut anaknya. Tapi saya tidak mengabulkannya dengan alasan bahwa pemeriksaan itu belum dibutuhkan saat ini. Pertimbangan saya adalah tidak ada urgensi melakukan tindakan rontgen abdomen pada pasien tersebut. Alih-alih, justru nanti saya yang akan dipertanyakan atas dasar apa meminta pemeriksaan rontgen abdomen. Saya terangkan apabila dalam waktu 7 hari berselang anjuran diet tinggi serat itu tidak mampu membuatnya lancar BAB atau mengeluh gangguan pencernaan yang signifikan, maka langkah selanjutnya adalah foto polos abdomen dengan / tanpa kontras. Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Mulailah dulu dari hal yang paling sederhana. Dokter tahu apa yang harus dilakukan, tapi ibu tersebut tidak memahami dan juga tidak mau mengerti kendatipun sudah disampaikan dengan jelas. Karena sudah keburu tidak percaya, si pasien pulang dan tidak pernah kembali lagi.
Mengetahui Penyebab Munculnya Keluhan Penyakit
Judul di atas yang saya coba angkat sebenarnya merupakan cerminan atas apa yang sering kali kita lakukan. Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa sebenarnya kita cukup sehat, tidak sakit, dan dapat beraktivitas normal. Banyak pula dari kita yang menyadari bahwa kita mengeluh sakit, tapi dengan serta merta menghubung-hubungkan kejadian yang tidak ada hubungannya dengan penyakit tersebut, dan berharap agar dokter setuju dengannya. Seperti contoh di atas, terjadi perbedaan antara hasil anamnese dengan hal yang dikeluhkan. Segala sesuatu butuh pemeriksaan yang spesifik sebelum keluhan itu ditegakkan sebagai sebuah diagnosa.
Dahulu semasa menjadi co-assistant, saya pernah dimarahi oleh dosen saya karena saya mencoba menghubung-hubungkan antara keluhan batuk darah pada pasien dengan cedera pada dada yang pernah menimpanya 10 tahun yang lalu, padahal pasien itu penderita TBC aktif. Untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan tertentu, tidak bisa semata-mata bersandarkan pada informasi pasien, melainkan dengan pemeriksaan yang akurat. Begitupun dengan informasi itu kami bisa menentukan apa yang hendak kami lakukan. Itulah tugas para dokter. Bukan untuk mengarahkan keluhan itu menjadi sebuah diagnosa, tapi untuk mengetahui langkah apa yang harus kami ambil (screening test) untuk membuktikan diagnosa kami.
Dokter Bukan Ahli Berdebat
Sekarang, bagaimana kita bisa memastikan bahwa keluhan yang kita rasakan memang keluhan yang sebenarnya? Jawabannya mudah, antara keluhan dengan tanda-tanda fisik ada kesesuaian. Lalu, bagaimana kita mengetahui bahwa kejadian dulu ada hubungannya dengan keluhan yang sekarang? Secara medis, hal itu hanya bisa dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan spesifik, mulai dari pemeriksaan fisik, lalu laboratorium, sampai dengan radiologi. Kita tidak akan pernah tahu hasilnya. Jadi, memang tidak mudah mengetahui apakah kejadian dulu ada hubungannya dengan keluhan sekarang. Ini merupakan kelebihan sekaligus kekurangan dalam dunia kedokteran. Kelebihannya adalah bahwa dalam menegakkan diagnosa, medis selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip pemeriksaan fisik. Semakin akurat pemeriksaannya, maka semakin akurat pula diagnosanya. Kekurangannya adalah bahwa medis sering kali sulit mengetahui asal muasal terjadinya kelainan yang sudah berlangsung lama (misalnya lebih dari 2 tahun). Sebagai contoh, sangat sulit membuktikan kelainan gendang telinga akibat radiasi ponsel. Walaupun secara teori dimungkinkan, tapi sulit untuk dibuktikan. Kalaupun bukti itu ditemukan, masih sulit memastikan apakah keluhan tersebut memang murni disebabkan oleh radiasi ponsel atau tidak.
Kami para dokter melakukan yang terbaik untuk mengobati keluhan Anda. Semua advis terapi yang diberikan pada saat konsultasi bertujuan untuk memberikan solusi yang paling sederhana hingga yang paling sulit. Tidak bijak jika konsultasi justru menjadi ajang perdebatan. Kecuali, jika dokter terbukti lalai, sehingga pasien terpaksa mengambil inisiatif sendiri. Mungkin lain waktu akan saya bahas tentang hal ini.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Related posts:
- Seberapa Baikkah Dokter Anda?
- 8 ALASAN ORANG TAKUT DIOPERASI
- 7 Alasan Harus Dilakukan Operasi
- Menjawab Tantangan Kedokteran Masa Depan (I)
- Menjawab Tantangan Kedokteran Masa Depan (III)











Assalamualaikum. Hello, I am Fauzan. Thank you for visiting my blog. To find out more about this site, please visit
*Widget By mfaisal
Leave a Comment