5 TIPE ORANG LANJUT USIA
Posted on December 4th, 2009 in Age-related Disease Bahasa_Indonesia, Psikologi, Treatment
Merawat mereka yang sudah lanjut usia tidak bisa disamakan seperti merawat orang yang muda, apalagi dianggap seperti kanak-kanak. Sifat yang dibawa semenjak muda akan menjadi sifatnya di waktu tua. Orang yang paling pantas merawat orang lanjut usia adalah anaknya sendiri, bukan suster atau orang yang digaji untuk hal itu. Karena anak tentunya paling mengerti sifat pembawaan orang tua, mengetahui apa keinginan, cita-cita, dan harapan dari si orang tua. Untuk memahaminya harus dinilai dari latar belakang, masa lalu, dan kesehariannya. Tanpa 3 hal ini, rasanya sulit untuk memahami bagaimana karakter orang tua yang sebenarnya.
Banyak orang tua yang baik, tapi banyak pula yang kurang baik. Jangan buru-buru menilai sifat orang tua hanya dari sisi buruknya. Mungkin dari kita ada yang merasa jengah, bosan, kecewa dengan sifat yang dimiliki oleh orang tua, tapi kita tidak mengerti mengapa orang tua memiliki sifat seperti itu. Demi menjawab hal ini, saya mengutip dari tulisan R.Boedhi dan Darmojo dalam buku Geriatri FKUI 1999 halaman 26-27.
- Tipe konstuktif : Orang ini mempunyai integritas baik, dapat menikmati hidupnya, mempunyai toleransi tinggi, humoristik, fleksibel (luwes), dan tahu diri. Biasanya sifat-sifat ini dibawanya sejak muda. Mereka dapat menerima fakta-fakta proses menua, mengalami masa pensiun dengan tenang., juga dalam menghadapi masa akhir.
- Tipe ketergantungan (dependent) : Orang lansia ini masih dapat diterima di tengah masyarakat, tetapi selalu pasif, tak berambisi, masih tahu diri, tak mempunyai inisiatif dan bertindak tidak praktis. Biasanya orang ini dikuasai istrinya. Ia senang mengalami pensiun, malahan biasanya banyak makan dan minum, tidak suka bekerja dan senang untuk berlibur. Untuk lansia tipe ini, saya jadi ingat novel pujangga baru berjudul Katak Hendak Menjadi Lembu karangan Sutan Takdir Alisyahbana.
- Tipe defensif : Orang ini dahulu biasanya mempunyai pekerjaan/jabatan tapi tak stabil, tak tetap, bersifat selalu menolak bantuan, seringkali emosinya tak dapat dikontrol, memegang teguh pada kebiasaannya, ebrsifat kompulsif aktif. Anehnya meraka takut menghadapi “menjadi-tua” dan menyenangi masa pensiun.
- Tipe bermusuhan (hostility) : Mereka menganggap orang lain yang menyebabkan kegagalannya, selalu mengeluh, bersifat agresif, curiga. Biasanya pekerjaan waktu dulunya tidak stabil. Menjadi tua dianggapnya tidak ada hal-hal yang baik, takut mati, iri hati pada orang yang muda, senang mengadu untung pada pekerjaan-pekerjaan aktif untuk menghindari masa yang sulit/buruk.
- Tipe membenci/menyalahkan diri sendiri (selfhaters) : Orang ini bersifat kritis terhadap diri sendiri dan menyalahkan diri sendiri, tak mempunyai ambisi, mengalami penurunan kondisi sosio-ekonomi. Biasanya mempunyai perkawinan yang tak bahagia, mempunyai sedikit “hobby”, merasa menjadi korban dari keadaan, namun mereka menerima fakta pada proses menua, tidak iri hati pada yang berusia muda, merasa sudah cukup mempunyai apa yang ada. Mereka menganggap kematian sebagai suatu kejadian yang membebaskannya dari penderitaan. Statistik kasus bunuh diri menunjukkan angka yang lebih tinggi persentasenya pada golongan lansia ini, apalagi pada mereka yang hidup sendirian. Kesusahan kehilangan seseorang yang dicintai seringkali berakibat depresi, juga bila kehilangan teman atau relasi lain. Ini dapat menyebabkan gangguan fsik dan psikiatrik.
Nah, dengan mengetahui tipe-tipe orang lanjut usia di atas, setidaknya kita bisa mengambil sikap yang terbaik dan paling cocok untuk menghadapi orang tua, tentunya dengan cara yang baik pula. Nasehat orang terdahulu “Yang tua dihormati, yang muda disayangi” menjadi bekal buat kita agar berlaku adil dan sayang kepada sesama. Saya tidak akan membahas bagaimana Anda bersikap kepada orang tua jika punya kasus begini atau begitu, karena saya yakin ada pakar lain yang lebih berkompeten. Tapi, saya tujukan kepada mereka yang memang sehari-hari merawat orang tua yang mungkin mengidap diabetes, hipertensi, stroke, alzheimer, dan sebagainya, karena bagaimanapun orang tua membutuhkan bantuannya, minta ataupun tidak. Bagi mereka yang mampu menjalani hari-harinya merawat orang tuanya dengan penuh kasih sayang, saya acungkan dua jempol ke atas buat Anda. Jelas, itu bukanlah pekerjaan yang gampang.
Kelak kita semua akan menjadi tua. Anda mau menjadi tipe yang mana? Silahkan komentarnya.
Related posts:
- 14 TIP MERAWAT PENDERITA KEPIKUNAN
- BISAKAH NYERI REMATIK PADA USIA LANJUT DICEGAH?
- MANDI MALAM MENYEBABKAN REMATIK, FAKTA ATAU MITOS?
- Diabetes, Bolehkah Mengkonsumsi Madu?
- Terapi Alternatif Untuk Migren











Assalamualaikum. Hello, I am Fauzan. Thank you for visiting my blog. To find out more about this site, please visit
March 6th, 2010 at 1:52 pm
Bagaimana menghadapi orang tua yang emosional karena hingga usianya saat ini harus tetap berfikir keras? Terkadang terbawa emosi dalam menghadapinya. Terimakasih, mohon dijawab melalui email juga.
March 6th, 2010 at 2:15 pm
Makasih kunjungannya Wahda.
Seperti yang dijelaskan di atas, sifat yang dibawa semenjak muda akan menjadi sifatnya di waktu tua. Jadi, hal yang terpenting saat merawat orang tua adalah mengetahui benar-benar bebannya di waktu muda, sehingga tidak tertutup kemungkinan ia membawa beban itu hingga tua.
Emosi sering muncul apabila karakter orang tua ternyata bertentangan dengan karakter anaknya. Mana dulu yang harus mengalah? Siapa saja yang lebih dahulu mengalah, tidak masalah karena sudah sangat sering sekali, orang yang lebih dahulu mengalah ternyata mampu membaca beban emosional orang lain lebih cepat.
Mungkin jawaban ini sangat umum. Jika Wahda punya topik khusus yang ingin Care and Healed tampilkan di sini, bisa menggunakan fasilitas request. Kita akan coba bahas tuntas semampunya.
March 6th, 2010 at 2:39 pm
Oh ya, jika Wahda ingin direply ke email juga, silahkan mencentang pada pilihan “Notify me of followup comments via email“. Dengan demikian, setiap kali ada reply dari sini, akan langsung diberitahukan ke email Wahda. ^_^