SAKIT JIWA KAMBUH, DUH REPOTNYA!
Posted on December 6th, 2009 in First Aid Bahasa_Indonesia, Schizophrenia, Treatment
Sebenarnya, sakit apapun jika sudah dikategorikan kambuh, itu berarti kita harus siap dibuat repot. Kambuh / bangkitan (relaps/recurrence) merupakan suatu keadaan yang muncul mendadak dalam suatu perjalanan penyakit, dimana kondisi itu memburuk dan jika tidak segera diatasi bisa mengancam jiwa. Contoh dari penyakit yang muncul secara kambuhan yang paling sering adalah asma dan epilepsi. Dan satu penyakit yang sifatnya psikiatrik yaitu penyakit jiwa, dikenal sebagai schizophrenia.
Kambuhnya penyakit jiwa tentu berbeda dengan penyakit non kejiwaaan. Ciri yang paling sering bisa dilihat adalah mengamuk, marah, memukul apa yang ada, membanting apa yang dipegang, dan sebagainya. Ada juga yang tidak demikian, misalnya hanya diam dan mengurung diri di kamar, atau ketawa cekikikan sendirian. Ada pula yang lari keluar rumah tanpa bisa dicegah. Kalau sudah begitu, orang di sekitarnya tentu dibuat panik dan bingung harus berbuat apa. Jika diajak bicara, hasilnya sia-sia karena yang diajak bicarapun tidak mengerti karena sudah dalam kondisi tidak waras alias gila.
Kasus ini menimpa salah seorang teman saya yang kebetulan kakak iparnya mengidap sakit jiwa kronis. Ia mengeluhkan kambuhnya sakit jiwa kakaknya itu pada saya via telepon pukul 10 malam. Ia menceritakan kebingungannya dalam mengatasi masalah tersebut karena kondisi kakaknya yang mengamuk dan memukul apa yang ada. Dalam kebingungannya itu, ia meminta bantuan saya dan saya pribadi tidak bisa memberikan pertolongan apapun karena hal itu sudah masuk dalam kondisi kedaruratan psikiatrik. Selain itu, penanganan kasus seperti itu tidak cukup ditangani oleh satu orang medis, karena harus dibantu oleh tenaga perawat yang memang sudah ahli menangani kasus semacam itu. Jadi saya sarankan agar dia membawanya ke rumah sakit terdekat agar mendapat obat penenang. Kalau ternyata sulit untuk melakukan hal tersebut, maka tidak ada cara lain selain menghubungi pihak yang berwajib untuk diamankan.
Berikut ini adalah beberapa langkah yang perlu kita ketahui jika berhadapan dengan kasus kambuhnya penyakit jiwa :
- Munculnya kekambuhan itu biasanya ada pemicunya. Orang yang paling tahu mengenai hal ini adalah orang yang paling dekat dengannya. Langkah kita adalah jauhkah ia dari pemicu tersebut. Lakukanlah sesegera mungkin.
- Pada beberapa kasus, kita bisa menundukkan orang gila dengan cara membentaknya. Cara ini dulu sering digunakan ayah saya jika berhadapan dengan pasien gila. Karena beliau bersuara keras, tentu cara ini tidak sulit. Namun, jika pasien tersebut sudah tampak mulai mengamuk, maka bertindaklah segera. Panggil bantuan untuk memegangnya. Saat dia mengamuk, maka ia tidak hanya membahayakan orang lain, tapi juga dirinya sendiri.
- Untuk menahan gerakan-gerakan spontanitas dari orang gila, biasanya digunakan baju khusus. Sebagai gantinya, ikatlah tangan dan kakinya agar tidak mencederai orang di sekitarnya. Jika ia terlalu ribut karena mengoceh tidak karuan, ikat juga mulutnya.
- Bawa segera ke rumah sakit. Yang terbaik sebenarnya adalah rumah sakit jiwa. Penanganannya adalah berupa pemberian injeksi obat sedativ/hipnotik untuk menenangkan kondisi mental si pasien.
- Alternatif yang lain adalah meminta bantuan dari pihak yang berwajib supaya si pasien bisa ‘diamankan’ sementara waktu sambil menunggu bantuan dari medis.
- Perlakukanlah selayaknya sebagai manusia, bukan sebagai binatang. Kendatipun ia sedang dalam kondisi tidak waras, ia tidak bisa disejajarkan dengan binatang. Ini adalah point yang paling penting untuk diingat.
Banyak kekeliruan dalam menyikapi orang gila. Mungkin Indonesia sudah tidak asing dengan istilah pasung. Pasung ini merupakan upaya menahan gerakan orang gila dengan cara mengikat kakinya dan mengurungnya dalam satu ruangan khusus, umumnya ruangan yang sempit, bahkan tidak jarang yang mirip kandang. Makanan akan dibawakan untuknya agar ia bisa bertahan hidup. Perlakuan ini jelas tidak manusiawi.
Problem utama yang sering dihadapi oleh keluarga yang salah seorang anggota keluarganya menderita sakit jiwa adalah problem ekonomi. Untuk biaya perobatan biasanya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Pada banyak kasus, anggota keluarga yang menderita sakit jiwa itu ‘dibuang’ dari rumah dan dibiarkan berkeliaran entah kemana, tidak jelas apakah masih hidup ataupun sudah meninggal (mati). Jika kebetulan penderita sakit jiwa itu adalah wanita yang berparas cantik, sudah tidak heran ia akan jadi bulan-bulanan pemerkosaan oleh pria-pria iseng. Ia sendiri tidak bisa memprotes karena tidak mengerti apa yang telah terjadi pada dirinya. Ironis memang. Lebih ironis lagi jika tidak ada perhatian lebih untuk menangani kasus-kasus semacam ini.
Kita tidak pernah tahu apa yang telah terjadi pada diri orang-orang yang mengalami penyakit jiwa itu. Ia tidak bisa menceritakan apapun dengan jelas dan hanya menunjukkan perangai kekecewaan berupa tertawa, menangis, mengamuk dan sebagainya. Ia membutuhkan pertolongan, tapi sayangnya ia tak sanggup mengatakan hal itu. Fikirannya kosong dan menerawang entah kemana. Tapi, mungkin hatinya menjerit tanpa ada seorang pun yang sanggup mendengar. Hanya Tuhanlah yang Maha Mendengar jeritan hatinya. Bagi kita, sudahkah kita memberikan bantuan yang terbaik untuk mereka? Ataukah kita termasuk orang yang duduk sambil menonton penderitaan orang lain? Tanyakan pada diri kita sendiri. Tanyakan apa yang semestinya kita perbuat.
Semoga bermanfaat.
No related post.







Assalamualaikum. Hello, I am Fauzan. Thank you for visiting my blog. To find out more about this site, please visit 
February 2nd, 2010 at 12:16 pm
wah blog sobat bagus sekali! infonya juga bermanfaat sob
February 11th, 2010 at 7:43 am
Makasih atas kunjungannya ya. Care and Healed akan berusaha menyediakan info bermanfaat lain, tapi saat ini sedang bermasalah dengan kuota. Mohon dukungannya ya.