PROSES PENCANGKOKAN SEL INDUK
Posted on March 16th, 2010 in Global Focus Bahasa_Indonesia, Cancer, Treatment
Pengobatan dengan cara stem cell mampu mereparasi jaringan tubuh manusia yang rusak akibat serangan berbagai penyakit. Lewat proses pencangkokan, sel induk akan diambil dari tubuh seseorang. Meski saat ini sumber sel induk dari bagian lain dari tubuh manusia, sumber sel induk yang selama ini menjadi tumpuan adalah sel sumsun tulang pinggul, sumsum tulang dada, tulang punggung, serta tulang rusuk. Sel-sel yang rusak pada bagian tertentu dalam tubuh akan mendapatkan pasokan dari sel-sel baru yang merupakan hasil cangkokan. Sel baru inilah yang kemudian akan membuat proses regenerasi sel sehingga kondisi organ tubuh yang rusak berangsur-angsur makin membaik.
Lalu, bagaimana proses pencangkokan ini dilakukan? Ada beberapa macam prosedur. Pertama, pencangkokan autologous. Di sini sel induk diambil dari sel sumsum tulang pasien itu sendiri. Kedua, prosedur allogenik. Sel induk diambil dari pendonor yang cocok, umumnya dari keluarga atau orang lain yang cocok. Ketiga, melalui transplantasi singenik. Transplantasi dengan menggunakan sel induk dari saudara kembar identik si pasien, kalau punya.
Mereka yang melakukan pencangkokan akan dibius secara umum. Dokter akan menyedot sumsum dari tulang pinggul pendonor dengan sebuah syringe sebanyak 500 cc. Prosedur ini biasanya hanya menggunakan bius lokal, kecuali pasien meminta untuk dilakukan bius umum. Di sekitar sumsum tulang itu banyak terdapat jaringan syaraf sehingga jika kurang hati-hati akan terasa sangat sakit sekali. Proses ini memerlukan waktu selama satu jam atau sekitar 8,33 cc / menit. Benar-benar proses yang melelahkan.
Setelah itu dokter akan menyuntikkan sel induk ke dalam pembuluh vena si penerima (resipien). Sel induk ini lantas akan memperbarui sel-sel yang rusak dan meningkatkan kembali sistem pertahanan tubuh. Bisa juga dengan cara menanamnya langsung di organ yang rusak agar bisa langsung beregenerasi.
RESIKO-RESIKO
Ada beberapa resiko yang perlu dicermati.
- Manfaat akan terasa lebih saat sel induk yang diterima ternyata memang cocok. Akan lain ceritanya jika sel induk yang diterima tidak cocok. Akan muncul penyakit baru yang disebut Graft versus Host Disease (GvHD). Sumsum tulang yang baru menghasilkan sel-sel aktif yang menyerang sel tubuh penerima donor.
- Risiko kontaminasi virus. Jika prosedur pengambiian sel induk kurang bersih, resiko terjangkit oleh virus sangat besar. Sumsum merupakan tempat memproduksi darah, sehingga harus dipastikan sterilitas alat dan ruangan.
- Prosedur pencarian donor sel induk memakan waktu lama. Ini untuk menghindari kemungkinan terjadinya ketidakcocokan antara donor dan resipien. Belum lagi uji kekebalan tubuh resipien sebelum dilakukannya transplantasi. Baik pendonor maupun resipien terlebih dahulu akan diisolasi selama 3 minggu, sehinga sel induk bisa menghasilkan sel darah putih untuk melindunginya dari infeksi. Selama isolasi, petugas medis dan pengunjung harus menggunakan penutup muka dan baju panjang kala datang ke ruang isolasi. Mereka juga harus mencuci tangan secara menyeluruh sebelum memasuki ruangan tersebut. Setelah menerima cangkokan sel induk, resipien harus tetap tinggal di rumah sakit selama 1-2 bulan, dan jika keluar dari rumah sakit mereka harus tetap berkunjung secara teratur selama 1 tahun.
- Biaya mahal, tentu saja. Dengan gambaran prosedur di atas, mungkin Anda bisa membayangkan kira-kira berapa biaya yang pantas untuk perawatan intensif semacam itu.
Pertanyaan besarnya : Sudah adakah di Indonesia?
Related posts:
- Stem Cell, Inikah Terapi Yang Ditunggu-tunggu Itu?
- PROLOG : MENELUSURI JEJAK KESEMBUHAN
- PENCANGKOKAN SEL INDUK DI INDONESIA
- DEATH SENTENCE OF LEUKEMIA, IS IT?
- Serba Serbi Jerawat Membandel











Assalamualaikum. Hello, I am Fauzan. Thank you for visiting my blog. To find out more about this site, please visit
*Widget By mfaisal
Leave a Comment