Seberapa Baikkah Dokter Anda?
Posted on April 25th, 2010 in Inside Doctor's Room Bahasa_Indonesia, Info_consent
Banyak dari kita yang masih merasa takut pergi berobat ke dokter. Secara logika sederhana, tentu hal ini merupakan hal yang aneh, mengingat bahwa berobat itu untuk kebaikan diri kita sendiri. Tapi, ternyata sikap takut itu tidak muncul dengan sendirinya tanpa ada pemicu sebelumnya. Ya, beberapa dokter identik dengan sikap kejam, judes, jutek, bersuara keras dan kasar, bahkan ada yang terkesan tidak punya perasaan, sehingga mengucapkan kata-kata yang mudah menyinggung perasaan pasien.
Profesi saya adalah dokter, tapi saya memiliki banyak pengalaman buruk berhadapan dengan dokter. Padahal hal itu merupakan hal yang paling akhir terlintas dalam fikiran saya bahwasanya dokter akan berperilaku buruk terhadap sejawatnya, tapi itulah yang terjadi. Bahkan karena mengetahui diri saya dokter, justru arogansinya malah muncul. Sebuah contoh, 10 tahun yang lalu saya pernah berkonsultasi tentang problem kesehatan kulit ke seorang dokter spesialis kulit di Semarang. Klinik itu cukup besar dengan fasilitas parkir yang luas, plus ada warung yang memang disediakan untuk pengunjung. Keindahan yang disajikan itu tentunya membuahkan harapan pada pasien manapun untuk segera menemukan solusi paling tepat untuk kesehatannya. Saya pun masuk ke ruangan dokter. Tapi uniknya, dalam ruangan dokter itu telah duduk beberapa orang, mungkin sekitar 15-20 orang. Satu per satu orang dipanggil untuk di-anamnesa. Karena memang sudah satu ruangan, apapun yang dibicarakan bisa terdengar jelas oleh orang lain. Jika ada yang mengeluh kurap di punggung, maka pasien yang lain bisa mendengar keluhan temannya itu. Suasana terbuka seperti ini tentunya sangat tidak nyaman buat saya, walaupun saya tidak sedang mengidap penyakit yang memalukan. Tapi, saya sangat tidak suka jika proses anamnesa ini bisa didengar oleh pasien lain yang tidak berkepentingan.
Namun, proses tanya jawab yang tidak memuaskan itu berlangsung sangat singkat, menghabiskan waktu kurang dari 1 menit saja. Si dokter langsung bertanya, “Mau dibersihkan semua atau tidak?” Saya kaget dan tidak tahu harus menjawab apa. Apanya yang mau dibersihkan, dan apa maksud ‘semua atau tidak’? Saya tanya balik, tapi dokter itu malah tertawa mengejek dan mengulangi pertanyaan yang sama. Saya pun menjawab sekenanya saja, “Semua sajalah dok,” tanpa saya tahu arah dan tujuan pertanyaan itu. Yang jelas, dokter itu sudah menentukan terapi untuk saya tanpa menjelaskan terlebih dahulu apa sebenarnya problem yang saya alami. Dengan kata lain, sang dokter spesialis itu telah mengabaikan informed consent (sering juga disingkat sebagai info consent) yang semestinya menjadi hak pasien. Saya mau protes, tapi saya tidak tahu kepada siapa. Nasib baik ada seorang asisten dokter (bukan perawat, tapi dokter juga) yang mau mendengarkan keluh kesah saya. Tapi, begitupun penjelasan yang saya dapatkan tetap tidak memuaskan. Walaupun akhirnya terapinya tetap saya ikuti selama 3 bulan, tapi saya tidak merasakan perubahan apapun. Akhirnya dengan sangat menyesal, saya berhenti mengikuti terapi dari dokter tersebut.
Informed Consent Itu Sangat Penting Buat Pasien
Informed consent merupakan suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi. Dengan demikian informed consent dapat didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.
Ini adalah satu hal yang perlu diketahui oleh para kalangan dokter, juga masyarakat. Dokter dibayar bukan karena resepnya, ataupun obatnya, melainkan karena jasa konsultasi dan diagnosanya. Jika hendak membayar resep atau obat, maka Anda bisa melakukannya di apotik. Tapi, Anda membayar jasa dokter untuk mengetahui diagnosa dan penjelasan tentang penyakit Anda. Soal membayar lebih untuk mendapatkan terapi, itu adalah persoalan yang lain.
Saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh lagi tentang seberapa pentingnya penjelasan itu buat pasien. Dan saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika info consent ini tidak dijalankan dengan baik dan benar. Di sini dokter dituntut untuk bersikap realistis, bukan sekedar bermulut manis. Tidak semua penyakit bisa dijelaskan secara mudah, bahkan beberapa harus diperiksa melalui uji laboratorium. Namun, pasien sebagai pihak yang membayar berhak tahu apa langkah yang diambil sang dokter dan kenapa dokter mengambil langkah tersebut. Apakah pasien bersedia atau tidak, keputusan itu mutlak berada di tangan pasien, bukan di tangan dokter. Dokter adalah pihak yang memberikan pilihan, merekomendasikan, memberikan alternatif terbaik hingga terburuk kepada pasien, menjelaskan sisi baik dan buruk setiap terapi, dan sebagainya. Setiap pertanyaan yang diajukan pasien mestinya dijawab dengan santun dan ramah. Tidak semua orang mengerti dengan cepat apa yang dikatakan oleh dokter. Karena itu dokter pun harus memperhatikan baik-baik apa yang disampaikannya, agar tidak salah pengertian.
Seberapa Baikkah Dokter Anda?
Tidak semua dokter adalah dokter, dan tidak setiap dokter adalah benar-benar dokter. Menjadi dokter itu pilihan, bukan keharusan.
Memilih profesi sebagai dokter berarti memilih profesi yang dekat dengan masyarakat, dituntut untuk bersikap santun dan ramah, aktif, cerdas, dan cepat tanggap. Dokter bukanlah profesi yang dilayani, melainkan melayani. Setiap keluh kesah pasien harus didengarkan. Kenyataannya, saat ini dokter melakukan anamese plus resep dalam kurun waktu kurang dari 5-10 menit. Sangat cepat dan sangat ringkas. Entah karena dokter sudah capek ngomong, atau memang pasiennya sudah capek mendengarkan cuap-cuap sang dokter, kita tidak pernah tahu. Tapi yang jelas, antara pasien dan dokter ada hak dan kewajiban yang harus ditunaikan, dan di dalamnya terdapat saling pengertian dan tanggung jawab. Jadi, ini merupakan prinsip hubungan kerjasama, tidak hanya secara fisik, tapi juga psikologis.
Saya yakin Anda telah memilih dokter yang terbaik untuk Anda. Anda memilih dokter dengan kriteria yang disebutkan di atas, bahkan mungkin memiliki kelebihan-kelebihan lainnya lagi. Namun ingatlah selalu, untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan erat dengan penyakit, dan membatasi pertanyaan-pertanyaan yang justru tidak ada hubungannya sama sekali. (Baca Menyikapi Keluhan Pasien). Sebagai pasien, jangan sampai ada kesan hendak mengarahkan diagnosa. Biarkan dokter menjalankan tugas yang terbaik yang ia bisa lakukan. Profesi dokter memang merupakan profesi yang banyak menguras tenaga fikiran, melelahkan secara fisik dan psikologis, tapi tidak menjadi alasan bahwa dokter bisa bersikap kasar kepada pasien. Bukan berarti pasien dengan bebas melakukan seenaknya saja tanpa memikirkan profesi dan kredibilitas sang dokter yang bersangkutan. Tetap ada batasan-batasan dan aturan yang harus diikuti.
Bagi Anda yang mungkin sedang mencari pengobatan, jangan putus asa dan tetaplah berusaha untuk mencari bantuan yang terbaik. Walapun mungkin terapi kedokteran banyak dipandang miring saat ini, tapi bukan berarti dokter tidak berusaha. Dokter dan para ahli kesehatan yang lain akan berkolaborasi untuk memberikan solusi terbaik untuk kesehatan. Itulah mimpi dunia kedokteran, dan semoga terwujud segera.
Semoga antara pasien dan dokter terjalin hubungan saling menghargai, saling menghormati, dan saling membantu. Bagaimanapun, problem yang dialami pasien adalah problem dokter itu juga.
Semoga bermanfaat.
Related posts:






Assalamualaikum. Hello, I am Fauzan. Thank you for visiting my blog. To find out more about this site, please visit
*Widget By mfaisal
Leave a Comment