Diabetes, Bolehkah Mengkonsumsi Madu?
Posted on October 18th, 2010 in Age-related Disease, Nutrition Bahasa_Indonesia, Diabetes, Honey, Treatment
Khasiat madu memang sudah sangat populer. Dengan kandungan yang beraneka ragam, madu diyakini merupakan makanan terbaik kedua setelah ASI (Air Susu Ibu). Fungsinya tidak hanya sebagai menjaga kesehatan, tapi juga mengobati berbagai macam penyakit. Saat ini kita bisa menemukan produk selain madu seperti bee-pollen dan propolis yang khasiatnya jauh lebih besar daripada madu biasa. Bagi mereka yang senang mengkonsumsi madu tentunya tidak akan bosan mencicipi rasanya yang manis. Ini karena madu kaya dengan kandungan glukosa dan fruktosa yang memberikan rasa manis khas madu.
Jika fakta ini dihadapkan pada penderita diabetes, tentunya banyak pasien diabetes yang hanya bisa menahan diri untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi madu. Boleh tidaknya penderita diabetes mengkonsumsi madu sudah lama menjadi perdebatan di dunia kedokteran. Tidak ada larangan bagi penderita diabetes untuk mengkonsumsi madu, asalkan dalam level yang sudah dibatasi (moderat). Jika sudah mengkonsumsi madu, maka sumber karbohidrat lain (seperti nasi, buah, dan sebagainya) harus dikurangi dalam rangka menjaga level gula darah tidak terlalu tinggi. Dengan kata lain, madu tetap diperlakukan seperti halnya sumber karbohidrat lain karena madu mengandung glukosa dan fruktosa. Madu akan menstimulasi produksi insulin, sama seperti gula lain, dan ini tidak menguntungkan bagi penderita diabetes, dimana sudah terjadi defisiensi insulin dalam darahnya.
Adanya pendapat bahwa metabolisme madu tidak membutuhkan insulin kiranya kurang tepat, karena untuk mengontrol metabolisme glukosa tetap menggunakan insulin. Melalui aktivitas insulin ini, glukosa yang berlebih akan diubah menjadi glikogen dan disimpan dalam lemak. Nah, kekurangan insulin akan mengakibatkan proses ini tidak berjalan optimal, sehingga akan banyak ditemukan glukosa berlebih di dalam darah. Normalnya, kadar gula darah berkisar antara 90-120 mg/dL. Jika nilainya di atas itu, maka kita menyebutnya hiperglikemia, yaitu kadar glukosa yang tinggi di dalam darah.
Benarkah madu memberikan efek yang sama seperti gula lain pada penderita diabetes? Dr. GBKS Prasad, dari Bagian Biokimia, Universitas Jiwaji di India, mengatakan dalam penemuannya yang mengungkapkan bahwa madu tidak mengakibatkan kenaikan kadar gula darah bagi mereka yang menderita diabetes ringan ataupun yang mengidap gangguan metabolisme glukosa. Mengkonsumsi madu dibandingkan dengan pemanis buatan lainnya akan meningkatkan kontrol gula darah dan sensitivitas insulin. (Baca di www.nutraingredients-usa.com)
Sebuah penelitian dilakukan oleh Abdulrhman M, El-Hefnawy M dan Hussein R, El-Goud AA dari Bagian Pediatri, Universitas Ain Shams, Kairo – Mesir. Mereka mengujicoba konsumsi madu pada 20 orang anak dan remaja yang menderita diabetes tipe I. Sebagai kontrolnya mereka melibatkan 10 orang anak dan remaja yang sehat. Usia rata-rata pasien keseluruhannya adalah 10,95 tahun. Kadar insulin dalam darah dinilai dengan mengukur kadar serum C-peptida. Sebagai informasi, serum C-peptida adalah serum yang dilepaskan dalam jumlah yang sama dengan insulin. Artinya, C-peptida dalam darah mengindikasikan seberapa banyak insulin yang dilepaskan oleh pankreas. Tujuan penelitian adalah untuk menilai kondisi Glycemic Index (GI) dan Peak Incremental Index (PI) setelah subjek mengkonsumsi madu dibandingkan dengan sukrosa (gula meja). Dan hasilnya sungguh mengejutkan. Madu, dibandingkan dengan sukrosa, memiliki GI dan PII yang lebih rendah pada grup pasien (P < 0.001) dan grup kontrol (P < 0.05). Kemudian, pada grup pasien diabetes tipe I, kenaikan level C-peptida tidak signifikan pada madu dibandingkan dengan glukosa ataupun sukrosa. Artinya, konsumsi madu pada pasien diabetes tipe I tidak memberatkan fungsi pankreas. Sedangkan, pada grup yang normal, kenaikan level C-peptida justru lebih tinggi pada madu ketimbang glukosa dan sukrosa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, madu, dikarenakan rendahnya level GI dan PII dibandingkan dengan sukrosa, boleh diberikan sebagai pengganti gula pada pasien dengan diabetes tipe I. Belum diketahui bagaimana efeknya pada pasien dengan diabetes tipe II.
Dari www.honey-health.com menuliskan pengalaman dari beberapa orang dokter yang menganjurkan konsumsi madu alami bagi penderita diabetes. Dr. A. Y. Davidov dari Russia berpendapat bahwa madu sangat baik sebagai pengganti gula dan pemanis lainnya bagi penderita diabetes. Ia yakin bahwa madu mencegah terjadinya acetonemia (peninggian kadar aseton dalam darah) dan mengurangi jumlah gula dalam urin (kencing gula / kencing manis), padahal madu terdiri dari 75% gula. Ketika penggunaan madu dihentikan sementara, maka persentase gula dalam urin kembali meningkat. Untuk memperbaiki keadaan tersebut, pasien harus diberikan lagi 4 sdt madu setiap harinya. Setelah itu, kadar gula akan turun seperti sedia kala. Dr. Davidov melaporkan lebih dari 6 kasus dimana madu memiliki efek yang sangat bermanfaat bagi penderita diabetes.
Dr. L. R. Emerick dari Eaton, Ohio, seorang spesialis endokrin, terutama diabetes, menggunakan madu sebagai bagian dari diet untuk 250 pasien diabetes dan sukses. Dr. R. J. Goss dari Middlebury, Vermont, menyampaikan ke negaranya untuk menolong pasien diabetes melalui program diet madu. Professor A. Szent-Györgyi, penemu Vitamin C, mempublikasikan hasil yang menarik seputar manfaat madu yang besar dalam mengoreksi substansi berbahaya aseton pada pasien diabetes. Ini dikarenakan madu mengandung banyak sekali asam-asam yang bervariasi, di antaranya lactic, succinic, citric, malic acid, dan sebagainya. Asam-asam inilah yang diduga kuat mampu menolong penderita diabetes dari ancaman acetonemia.
Dari tabloid Senior No. 384/24-30 November 2006, Prof. Dr.Aznan Lelo, Sp.FK, PhD, bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Sumatera utara, juga berpendapat bahwa madu dapat digunakan sebagai pengganti gula, aman dan sangat efektif bagi penderita diabetes. Jika ternyata gula darah meningkat setelah mengkonsumsi madu, maka dicurigai bahwa itu bukanlah madu asli. Madu pabrikan yang banyak mengandung gula tambahan tidak dianjurkan bagi penderita diabetes. Beliau menjelaskan dalam seminar perlebahan di Jakarta High Desert. “Untuk diabetes, insulin dibutuhkan untuk mengubah gula menjadi energi. Jika tidak ada insulin, maka gula darah akan meningkat. Madu sesungguhnya mengandung fruktosa, yang dapat menstimulasi produksi insulin. (red : bahwa madu mampu meningkatkan sensitivitas insulin.)
Artikel ini tidak menganjurkan bahwa setiap penderita diabetes diperkenankan mengkonsumsi madu. Saya pribadi tetap menganjurkan agar konsumsi madu tetap dalam pengawasan dokter. Walaupun madu diakui memiliki manfaat yang besar bagi penderita diabetes, tapi tingkat metabolisme tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Itulah yang akan membuat perbedaan hasil nantinya.
Semoga bermanfaat.
Related posts:
- 14 TIP MERAWAT PENDERITA KEPIKUNAN
- BISAKAH NYERI REMATIK PADA USIA LANJUT DICEGAH?
- MANDI MALAM MENYEBABKAN REMATIK, FAKTA ATAU MITOS?
- Resep Sehat Alami Untuk Kulit dan Rambut
- Terapi Alternatif Untuk Migren











Assalamualaikum. Hello, I am Fauzan. Thank you for visiting my blog. To find out more about this site, please visit
October 28th, 2010 at 8:48 am
nice post
jangan lupa kunjungi ini yaaaaa
November 12th, 2011 at 10:03 pm
[...] penelitian yang tercantum di situs web ini mengatakan: Tidak ada larangan bagi penderita diabetes untuk mengkonsumsi madu, asalkan dalam level [...]
November 15th, 2011 at 9:04 am
[...] penelitian yang tercantum di situs web ini mengatakan: Tidak ada larangan bagi penderita diabetes untuk mengkonsumsi madu, asalkan dalam level [...]