diggfacebookgooglemyspacestumbleupontwitter
199 views

Menjawab Tantangan Kedokteran Masa Depan (II)

Posted on December 19th, 2010 in Inside Doctor's Room , ,


Canon karya Ibnu Sina
Tubuh manusia ini bukan seperti onderdil kendaraan, yang apabila bermasalah maka bisa dicopot lalu dipasang lagi. Sulitnya mempersatukan persepsi dalam sebuah tehnik pengobatan adalah bahwa saat tubuh menderita sakit, fungsi satu organ akan bentrok dengan fungsi organ lain. Belum lagi terapi yang satu bisa berakhir bentrok dengan terapi yang lain. Ada banyak ragam penyakit yang ternyata tidak membutuhkan terapi khusus apapun, hanya istirahat dan memaintain kesehatan secara baik.

Dalam hal ini lahirlah sebuah paham yang disebut sebagai Kedokteran Holistik, yaitu kedokteran yang mampu memandang tubuh manusia sebagai kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisah-pisahkan baik dari segi diagnostik, maupun terapi. Ke depannya, kedokteran semacam inilah yang mampu menjawab tantangan masa depan. Dokter tidak lagi seseorang yang duduk di belakang meja dan menulis resep. Kelak, dokter adalah orang yang mampu untuk memberikan terapi secara langsung, merasakan bagian yang sakit dari tubuh pasien, dan mampu memberikan resep kesehatan bahkan tanpa melibatkan 1 butir pil sekalipun. Jika selama ini kelakuan dokter klinik tidak ubahnya seperti dokter UGD (datang-injeksi-resep), maka ke depannya diharapkan tidak lagi demikian. Butuh lebih dari sekedar resep agar mampu memberikan terapi terbaik buat pasien. Keberhasilan dokter tidak ditentukan dengan banyaknya antrian pasien untuk berobat, melainkan ditentukan dengan tingkat kesembuhan pasien setelah menjalani terapinya itu. Apa gunanya antrian yang panjang, jika ternyata terapinya begitu-begitu saja, malah terkesan jalan di tempat? Kita butuh lebih dari itu.

Jika seorang dokter memutuskan untuk menjadi spesialis, apa yang diharapkan dari spesialisasinya itu?

  • Apakah uang? Jika memang uang yang menjadi tujuan utama, maka butuh waktu terlalu lama dan jalan terlalu berliku untuk sampai pada tujuan mendapatkan penghasilan yang besar. Profesi pengusaha atau investor lebih cocok kiranya dalam hal ini ketimbang menjadi dokter.
  • Apakah demi ilmu pengetahuan? Jika kita mau saja jujur, menjadi spesialis itu sebenarnya mengerucutkan pengetahuan kedokteran. Dengan alasan bahwa tubuh manusia itu sangat kompleks sehingga membutuhkan orang-orang yang menguasai bidang-bidang tertentu, mungkin menjadi alasan yang paling masuk akal akan keberadaan spesialis. Jika yang dimaksud adalah profesional dalam hal diagnostik, mungkin ada benarnya. Tapi dalam hal terapi, upss… tunggu dulu. Dalam beberapa kasus, mungkin iya. Tapi dalam kasus yang lain, belum tentu. Duduknya spesialis itu sebenarnya adalah mumpuni dalam hal diagnosa. Untuk terapi, ia sebenarnya bisa menggunakan lebih dari 1 cara, baik konvensional maupun alternatif. Dengan kata lain, seorang spesialis sebenarnya harus mampu menemukan tehnik pengobatan yang ampuh, mencari dan meneliti, karena dia telah dibekali pengetahuan yang cukup untuk melakukan hal itu. Jadi, bukanlah spesialis yang kerjanya cuma duduk, baca buku, menjawab konsultasi, menuliskan resep apotik, berharap para ahli farmasi menemukan ‘resep’ untuknya.

Menjadi spesialis itu tentu akan membanggakan, tapi terlepas dari rasa bangga itu, kehebatan seorang spesialis akan diuji dengan beragam keluhan masyarakat. Tapi kelak tidaklah terlalu membanggakan jika seorang spesialis hanya mengandalkan kehebatan pil-pil ajaib untuk menjawab terapinya. Tidak semua penyakit itu harus dijawab dengan pil. Berapa banyak dokter yang berani mengatakan “Ibu, anak ibu baru demam hari pertama. Belum perlu obat penurun panas. Ibu bisa lakukan kompres. Jika setelah 3 hari masih demam, silahkan datang kemari.”? Jika hal itu dilakukan, maka praktekpun akan sepi. Ibarat makan cabe, pasien ingin kesembuhan yang cepat dari sang dokter. Saya berkeyakinan bahwa masih banyak dokter yang meresepkan Sefalosporin untuk keluhan demam hari pertama dan batuk anak.

Saat ini keberadaan praktisi alternatif semakin lama semakin banyak. Mereka mengklaim bahwa terapi kedokteran ternyata gagal dan malah memperparah keadaan pasien. Tidak sedikit saya menyaksikan para praktisi ini yang mencemooh hasil kerja dokter dan mengklaim bahwa hasil terapinya jauh lebih baik. Sayangnya banyak sesumbar itu yang menjadi omong kosong yang berakhir di tong sampah. Kedokteran itu tidak sesederhana itu, teman. Kedokteran itu bukan sekedar memberikan terapi. Jauh sebelum itu, kedokteran itu diawali dari pengenalan diri sendiri. Karena seorang dokter itu sebenarnya bukan tukang obat, melainkan orang yang mampu mengajarkan perihal kesehatan. Sayangnya, jika bertahan dengan idealisme ini, maka seorang dokter itu umumnya akan jatuh dalam kemelaratan. Alhasil, dokter-dokter saat ini adalah dokter hasil karya masyarakat, terjepit antara dilema kebutuhan pasien dan idealisme keilmuan sang dokter.

 
You might also like these
Menjawab Tantangan Kedokteran Masa Depan (I)
Mungkin sekelumit tulisan ini lebih pantas disebut curhat ketimbang info kesehatan. Banyak hal yang tengah saya lakukan saat ini sehingga membuat saya tanpa sengaja menelantarkan blog ini. Saya mohon maaf sebesar-besarnya ...
READ MORE
Menjawab Tantangan Kedokteran Masa Depan (III)
Apakah kedokteran alternatif menjadi jawaban atas tantangan kedokteran masa depan? Pertanyaan ini akan saya jawab dengan pertanyaan juga. Alternatif mana yang dimaksud? Bertahun-tahun para pakar dengan tekun mempelajari beragam metoda pengobatan alternatif, ...
READ MORE
Seberapa Baikkah Dokter Anda?
Banyak dari kita yang masih merasa takut pergi berobat ke dokter. Secara logika sederhana, tentu hal ini merupakan hal yang aneh, mengingat bahwa berobat itu untuk kebaikan diri kita sendiri. Tapi, ternyata ...
READ MORE
8 ALASAN ORANG TAKUT DIOPERASI
Operasi merupakan terminologi untuk menyebut suatu tindakan pembedahan yang dilakukan oleh para tenaga medis. Dari thefreedictionary.com, kata operasi (to operate) memiliki banyak pengertian antara lain : to function or cause to function to ...
READ MORE
7 Alasan Harus Dilakukan Operasi
Jika kita dihadapkan pada pilihan bahwa kita harus dioperasi atau tidak, biasanya dengan cepat kita langsung mengatakan, “Tidak!” atau “Apa tidak ada pilihan lain, Dok?” Banyak alasan yang bisa kita utarakan untuk ...
READ MORE
Menjawab Tantangan Kedokteran Masa Depan (I)
Menjawab Tantangan Kedokteran Masa Depan (III)
Seberapa Baikkah Dokter Anda?
8 ALASAN ORANG TAKUT DIOPERASI
7 Alasan Harus Dilakukan Operasi

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Related posts:

  1. Menjawab Tantangan Kedokteran Masa Depan (I)
  2. Menjawab Tantangan Kedokteran Masa Depan (III)
  3. Seberapa Baikkah Dokter Anda?
  4. 8 ALASAN ORANG TAKUT DIOPERASI
  5. 7 Alasan Harus Dilakukan Operasi
Published by care and healed
To republish this article on your own website, please copy-paste this code below. Enjoy your time to read other interesting articles on Careandhealed.com

*Widget By mfaisal


One Response to “Menjawab Tantangan Kedokteran Masa Depan (II)”

  1. melati putih Says:

    sy tertarik dng tulisan ini. sy pandang sbgai ungkapan hati seorang dokter dan profesi kedokterannya.
    sy orang awam yg tdk pernah terbersit ingin mengetahui banyak tentang kesehatan. bila sakit, kan ada dokter, itu saja.
    tp belakangan, sy mencoba utk tau lebih banyak ttg kesehatan. bahwa, ternyata dokter bukan tuhan, yg sakit lalu sembuh. tp dokter pun manusia biasa, yg jg bisa salah diagnosa. utk itu, sy belajar bagaimana diri ini mnjd sehat baik lahir maupun batin. dan apa sih yg membuat kita ini bs sehat? kalo tdk ada dokter bisakah diri ini menyembuhkan sendiri… nah, dr situ sy berkesimpulan bahwa kesehatan wajib dipelajari bukan hanya di akademi, tp cari ilmu sebanyak2nya lewat kumpulan pengetahuan, pengetahuan di alam atau obat2an herbal, yg mampu mengobati tanpa via dokter… maaf, kepanjangan. sy kira apa yg sy tulis sdh mewakili ungkapan hati pula. thx ur atensi

Leave a Comment

Referral-Link
Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.