Penyakit-Penyakit Yang Ditularkan Melalui Hewan (I)
Posted on November 14th, 2011 in Global Focus Bahasa_Indonesia, Contagious_Disease, Pandemic
Penyakit menular dikenal sebagai penyakit yang mudah berpindah dari satu individu ke individu lain. Jika penularan ini terjadi dalam satu wilayah, maka disebut endemik. Tapi, jika terjadari dalam beberapa wilayah, maka disebut epidemik. Yang disebut epidemik itu tidak hanya melibatkan beberapa propinsi, tapi bahkan bisa melibatkan beberapa negara sekaligus, contohnya pada epidemi kasus flu babi.
Hewan sebagai makhluk hidup yang punya kemiripan anatomi dan fisiologis dengan manusia secara definitif meyakinkan berpotensi menularkan penyakit kepada manusia. Dan banyak dari penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hewan itu menyebabkan kematian pada manusia, tapi juga ada yang tidak. Berat ringannya penyakit itu sangat dipengaruhi oleh jenis kuman dan sistem yang diserangnya. Berikut ini ulasannya.
HIV/AIDS
HIV (Human Immunodeficiency Virus), yang menyebabkan sebuah sindrom penurunan kekebalan tubuh (Acquired Immuno Deficiency Syndrome), merupakan Lentivirus, yaitu termasuk golongan Retrovirus. Sebagaimana sifat virus, Lentivirus menyerang sistem kekebalan tubuh. Istilah ‘lentivirus’ berarti ‘slow virus’ yang maksudnya virus ini butuh waktu lama untuk memunculkan gejala sakit pada tubuh. Secara umum, jenis lentivirus ini mudah dijumpai pada hewan-hewan peliharaan seperti kucing, biri-biri, kuda, dan sapi. Tapi, jenis lentivirus yang paling menarik ditemukan di simpanse (disebut SIV / Simian Immunodeficiency Virus) yang mana virus ini dipercaya sudah berumur setidaknya 32.000 tahun! SIV inilah yang diduga merupakan asal muasal HIV. Pertanyaannya, bagaimana virus ini bisa menginfeksi manusia?
Setidaknya ada 5 teori yang menjelaskan tentang hal itu :
- Teori ‘Pemburu’. Teori ini yang diterima secara umum. Teori ini menjelaskan bahwa perpindahan SIV ke tubuh manusia disebabkan karena manusia memburu simpanse, lalu memakan dagingnya. Atau ada kontak langsung antara darah simpanse dengan luka pada tubuh manusia pemburu. Sistem kekebalan tubuh bisa mengatasi infeksi SIV ini, tapi seiring dengan berjalannya waktu, SIV ini akan bermutasi (berubah) menjadi HIV-1 yang tidak terdeteksi oleh sistem imunitas tubuh. Celakanya, perpindahan retrovirus dari bangsa primata ke manusia pemburu ini masih berlangsung hingga sekarang.
- Teori vaksin Polio oral. Teori kontroversial ini menyebutkan bahwa vaksin polio punya peranan dalam memindahkan retrovirus ini ke manusia. Adalah Edward Hopper, seorang jurnalis, yang dalam bukunya The River menyebutkan hal itu. Alasannya, untuk memproduksi vaksin polio hidup (live vaccine) – disebut dengan nama Chat semasa itu -, butuh dibiakkan pada jaringan yang hidup. Hooper yakin bahwa Chat tumbuh pada sel ginjal yang diambil dari simpanse lokal yang terinfeksi SIVcmz (SIV yang menginfeksi chimp). Tapi teori ini tidak terbukti setelah dilakukan analisa dan menyatakan bahwa pembiakan Chat dilakukan pada sel ginjal monyet macaque yaitu jenis monyet yang banyak di Asia, dan bukan simpanse.
- Teori Jarum terkontaminasi. Ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari teori ‘Pemburu’ di atas. Pada tahun 1950-an, sudah lumrah menggunakan syringe plastik disposable untuk penyuntikan obat. Selain murah, cara ini diyakini lebih steril. Namun, bagi tenaga kesehatan profesional di Afrika, dibutuhkan syringe dalam jumlah yang cukup besar sehingga tentunya membutuhkan biaya yang tak sedikit. Karena itulah tampaknya satu syringe digunakan untuk menginjeksi beberapa pasien tanpa melalui proses sterilisasi terlebih dahulu. Ini yang menjadi alasan cepatnya penyebaran virus dari pasien ke pasien (termasuk yang terinfeksi darah pemburu tadi, sebagai contoh). Walaupun masih berupa SIV, hanya menunggu waktu saja sebelum virus itu bermutasi menjadi HIV.
- Teori Kolonialisme atau Teori ‘Heart of Darkness’. Teori ini diajukan pertama sekali oleh Jim Moore tahun 2000, seorang spesialis dari Amerika yang meneliti perilaku primata. Penemuannya tersebut dipublikasikannya di jurnal AIDS Research and Human Retrovirus. Moore memaparkan bahwa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Afrika diperintah oleh bangsa kolonial. Buruh dan pekerja kasar diperlakukan semena-mena. Kemiskinan dan problem kesehatan sudah menjadi pemandangan biasa. Moore yakin bahwa banyak pekerja kasar ini yang disuntik dengan jarum yang tidak steril untuk mencegah penyakit cacar air (agar mereka tetap hidup dan bekerja). Tapi pada saat yang sama banyak dari mereka yagn diharuskan bekerja sebagai prostitusi agar membuat pekerja-pekerja lain senang, sehingga menciptakan penyebaran yang lebih luas.
- Teori Konspirasi. Sebagian orang percaya bahwa HIV merupakan konspirasi atau dengan kata lain ‘buatan manusia’. Adalah mereka yang keturunan Afro-Amerika yang percaya bahwa HIV merupakan produk dari program senjata biologi, didesain untuk ‘menyapu’ orang-orang homoseksual yang berkulit hitam. Program ini diawasi dan didanai oleh US Federal SCVP (Special Cancer Virus Program), dan kemungkinan dibantu oleh CIA juga. Virus tersebut disebarkan melalui program suntik cacar air, ataupun percobaan vaksin Hepatitis B. Sayangnya bukti-bukti yang diajukan bersifat spekulasi, sehingga sulit untuk ditelaah lebih jauh.

Flu Burung (Avian Influenza)
Flu tidak hanya menyerang manusia, tapi juga bisa menyerang unggas dan burung. Umumnya, virus influenza yang menyerang burung ini tidak mampu menyerang manusia. Namun, adanya kasus wabah flu burung tahun 2001 yang silam membuktikan bahwa ada jenis (strain) dari flu burung ini yang bisa menyerang manusia, dan celakanya virus ini mematikan! Ada 4 macam strain yang sangat patogen yaitu tipe H5N1, H7N3, H7N7 dan H9N2. Di antara tipe ini, tipe H5N1 yang paling banyak dijumpai. Burung yang terinfeksi virus H5N1 tidak harus menampakkan gejala sakit, karena banyak di antara mereka itu yang bersifat carrier. Tapi, pada unggas bisa menyebabkan kematian massal. Kewaspadaan yang ekstra tinggi terhadap infeksi virus flu burung dikarenakan penyebarannya yang sangat cepat.
Seseorang yang terinfeksi flu burung, maka dalam kurun waktu 3 hari saja sudah menampakkan gejala radang paru / pneumonia (demam tinggi, batuk, dan sesak nafas). Virus ini bisa menular jika terdapat kontak langsung pada hewan yang terinfeksi. Penularan dari manusia ke manusia diyakini ada tapi sangat jarang dilaporkan (pun sangat sulit membuktikannya).
(Bersambung ke Bagian II)
Related posts:
- Penyakit-Penyakit Yang Ditularkan Melalui Hewan (II)
- Penyakit-Penyakit Yang Ditularkan Melalui Hewan (III)
- Swine Flu in Indonesia : Unfolding the Facts — (Part 3)
- Swine Flu in Indonesia : Unfolding the Facts — (Part 5)
- WORLD AIDS DAY, WORLD CONDOMS DAY?











Assalamualaikum. Hello, I am Fauzan. Thank you for visiting my blog. To find out more about this site, please visit
*Widget By mfaisal
Leave a Comment