Penyakit-Penyakit Yang Ditularkan Melalui Hewan (III)
Posted on November 27th, 2011 in Global Focus Bahasa_Indonesia, Contagious_Disease, Pandemic
Giardiasis
Giardiasis merupakan infeksi pencernaan yang disebabkan oleh kuman parasit Giardia spp seperti Giardia lamblia, Giardia bovis, Giardia canis, dan sebagainya. Kuman ini hidup pada saluran pencernaan binatang, termasuk anjing. Bentuknya ada 2 macam yaitu trophozoit dan kista. Trophozoit akan menimbulkan gejala-gejala penyakit, sedangkan kista akan menularkan dari satu host ke host yang lain. Di kotoran hewan akan terdapat banyak sekali kista, tapi hanya ada sedikit trophozoit.
Hewan bisa terinfeksi giardia karena memakan kotoran, atau menelan makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi. Dan secara kebetulan diketahui bahwa anjing merupakan hewan yang senang memakan kotorannya sendiri (coprophagia). Di usus, kista ini akan berkembang menjadi trophozoit yang dapat menginfeksi usus. Gejala-gejalanya adalah hewan akan menderita diare s/d disentri, tidak seleran makan, lemah, berat badan turun, dan sebagainya. Sebagaimana dilaporkan di www1.agri.gov.ab.ca bahwa kuman ini juga ditemukan pada anjing yang sehat.
Manusia yang terinfeksi giardia juga mengalami gejala seperti di atas. Untuk terapinya, direkomendasikan menggunakan metronidazole dan quinacrine dengan dosis yang sudah disesuaikan. Hewan yang terinfeksi juga harus diterapi, terlepas apakah mereka menunjukkan gejala klinis atau tidak.
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Host utamanya adalah kucing, sedangkan manusia dan mammalia lain berlaku sebagai intermediate host. Infeksi ini biasanya ditularkan umumnya melalui makan makanan yang kurang matang atau daging mentah yang terinfeksi oleh kista parasit ini.
Pada pria, infeksi kuman ini dirasa tidak begitu menjadi masalah. Tapi akan berbeda jika yang mengalaminya wanita, terutama yang sedang dalam kondisi hamil. Dilaporkan bahwa jika infeksi didapat saat kondisi hamil, maka ada resiko bahwa janin juga bisa terinfeksi. Probabilitasnya sekitar 50% pada ibu yang tidak diterapi dan 25% pada ibu yang sudah mendapatkan terapi. Jarang sekali menyebabkan kematian pada janin. Namun, pada beberapa kasus yang jarang, infeksi ini menyebabkan kebutaan (19%), anemia, dan infeksi otak (9%) pada janin. Begitupun 75% dari janin yang terinfeksi menunjukkan tidak ada gejala.

Infeksi Toxoplasma diyakini sebagai salah satu penyebab keguguran atau kesulitan memperoleh keturunan pada wanita. Untuk mengetahuinya, harus dilakukan pemeriksaan TORCH, yaitu pemeriksaan Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes simplex virus (HSV). Tapi perlu digarisbawahi bahwa tidak selalu problem sulit mendapatkan keturunan itu karena virus-virus ini. Perlu kajian lebih mendalam untuk mengetahuinya.
Demam Berdarah
Tampaknya rata-rata orang Indonesia pastinya sudah sangat kenal dengan yang namanya demam berdarah. Infeksi ini memang sering ditemukan di daerah tropis dan sub tropis, tapi jarang ditemukan di daerah yang lebih dingin; disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes betina. Yang paling umum Aedes Agypti. Beberapa tahun belakangan ini, ada muncul vektor yang kedua yaitu Aedes albopictus yang menyebar ke Amerika, sebagian Eropa dan Afrika. Tapi perlu diingat, demam berdarah disebabkan oleh infeksi dengue yang berulang dengan strain yang berbeda. Atau dengan kata lain, jika Anda terinfeksi dengue pertama kali, besar kemungkinan tidak akan berlanjut ke demam berdarah. Alasannya adalah antibodi tubuh masih bisa mengatasi virus. Namun, hal ini akan berbeda jika infeksi yang muncul adalah infeksi berulang dengan strain yang berbeda, dimana antibodi tidak mengenalinya.
Sebenarnya penyakit yang ditularkan karena gigitan nyamuk ini bukan hanya demam berdarah saja. Ada juga malaria dan chikungunya. Tapi dibandingkan dengan malaria dan chikungunya, demam berdarah jelas lebih mematikan. Virus yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan dengan antibodi tubuh membentuk kompleks virus-antibodi. Kondisi ini akan mengaktifkan sistem komplemen. Akibatnya anafilatoksin C3a dan C5a akan dilepaskan ke dalam darah. Pelepasan 2 komplemen ini menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah. Ini bisa diibaratkan seperti selang karet yang meregang dan pori-porinya tampak membesar. Lanjutannya sudah dapat ditebak. Darah akan keluar dari pembuluh darah (hidung berdarah, kuping berdarah, muntah darah, BAB berdarah)–> pasien akan kekurangan volume darah –> pasokan oksigen ke otak menurun –> shock s/d meninggal dunia. Kondisi ini akan diperberat saat trombosit gagal mengatasi perdarahan tersebut akibat kekurangan jumlah trombosit (trombocytopenia).
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Diyakini bahwa virus ini selain mampu menekan produksi darah dari sum-sum tulang, juga mampu berikatan dengan platelet manusia melalui keberadaan antibodi spesifik dan platelet clearance. Ikatan ini akan menyebabkan penggumpalan spontan oleh platelet. Penggumpalan akan melepaskan ADP (Adenosine Diphosphate) menyebabkan kerusakan metamorfosis pada trombosit itu sendiri. Trombosit yang rusak ini akan dibersihkan oleh sistem retikuloendotelial (limpa, hati, kelenjar limfe, dan sebagainya). Proses penghancuran trombosit yan berulang-ulang inilah yang menyebabkan penurunan trombosit parah pada demam berdarah dan makin memperparah perdarahan yang terjadi. (Catatan : Ada banyak sekali ragam manifestasi virus dengue ini hingga menyebabkan kondisi syok, tapi di sini saya hanya membahasnya sedikit saja.)
Dengan manifestasi klinis yang sedemikian parah, virus dengue ini punya kemiripan dengan virus Ebola. Belum ada vaksin untuk virus ini. Satu-satunya cara menghindarinya adalah dengan membasmi tempat bersarangnya nyamuk Aedes Aegypti dengan tehnik fogging (pengasapan), pemberian bubuk Abate pada sumur dan bak, menutup dan membersihkan genangan air.
Related posts:
- Penyakit-Penyakit Yang Ditularkan Melalui Hewan (I)
- Penyakit-Penyakit Yang Ditularkan Melalui Hewan (II)
- Swine Flu in Indonesia : Unfolding the Facts — (Part 3)
- Swine Flu : Changed Name Turned Into Debate
- Swine Flu in Indonesia : Unfolding the Facts — (Part 5)











Assalamualaikum. Hello, I am Fauzan. Thank you for visiting my blog. To find out more about this site, please visit
*Widget By mfaisal
Leave a Comment